Model ADDIE
November 26, 2023 Oleh masterdoy 604

Upaya Guru (Teknolog) dalam mendesain materi/ pesan pelajaran berbasis multimedia berlandaskan system thinking pada mata pelajaran IPA.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1).

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompk orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Menurut Ki Hadjar Dewantara dijelaskan bahwa pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, artinya pendidikan dapat menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencari keselamatan dan kebahagiaan stinggi-tingginya.

Dari definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan adalah pembimbingan yang diberikan oleh pendidik kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya agar peserta didik mampu dan cakap melaksanakan kewajiban tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.

Untuk mewujudkan pendidikan anak tentunya perlu adanya proses pembelajaran sehingga anak mengeti, paham, dan lebih dewasa serta mampu membuat peserta didik lebih kritis dalam berpikir.

Pembelajaran yang sekarang dikembangkan adalah pembelajaran abad 21 dimana kurikulum yang dikembangkan  menuntun sekolah untuk mengubah pendekatan pembelajaran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Artinya pembelajaran pada abad sekarang ini peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dalam belajar.

Pembelajaran abad 21 ini tentunya tidak terlepas dari esensi pendidikan abad 21 yaitu pendidikan yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Siswa berperan sebagai subjek dalam pembelajaran yaitu mencari, mengeksplorasi, dan memahami informasi melalui berbagai sumber. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam belajar. Oleh karena itu kolaborasi menjadi dasar atau kunci dalam pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Di kelas siswa dituntun untuk memiliki keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication) dan berkolaborasi (collaboration) atau sering kita sebut 4C.

Di atas telah disinggung juga bahwa pada pembelajaran abad 21 peran guru adalah sebagai fasilitator bukan sebagai pentrasfer ilmu. Artinya bahwa bagaimana ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru dapat tersampaikan kepada peserta didik dengan tidak mentransfer secara langsung. Oleh karena itu pembelajaran harus menggunakan suatu metode penyampaian yang memberikan pembelajaran yang kreatif dan inovatif sehingga peserta didik mendapat pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Salah satunya adalah bagaimana seorang guru mengemas materi pembelajaran agar menarik dan lebih dapat dipahami oleh peserta didik.

Dalam kesempatan ini saya sebagai guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) harus berupaya bagaimana agar materi IPA tersebut dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta didik agar tercipta pembelajaran yang diinginkan yaitu pembelajaran abad 21. Ada beberapa penyampaian materi/ pesan dalam pembelajaran diantaranya: 1) menggunakan teknik mengajar yang bervariasi; 2) menggunakan teknologi yang bisa menunjang pembelajaran; 3) belajar di luar kelas; 4) menggunakan metodw interaktif; dan 5) menyediakan materi dengan format lainnya.

Dalam kesempatan ini saya akan mencoba mengurai masalah penyampaian materi/ pesan pembelajaran dengan menggunakan teknologi atau media teknologi berbasis website dengan pendekatan system thinking. System thinking merupakan pemikiran sistem yang merupakan suatu pendekatan untuk dapat memahami berbagai macam sistem dengan menekankan pada hubungan antar elemen yang ada pada suatu sistem. System thinking disebut juga berpikir sistematis yaitu sebuah pendekatan holistik untuk memandang sebuah masalah secara universal atau menyeluruh dimana elemen-elemen di dalamnya saling berinteraksi satu sama lain.

Materi IPA merupakan mata pelajaran yang penting dan patut dikuasai oleh siswa pada era kemajuan teknologi dan informasi saat ini. (Checkly dalam artikel Riza Umami.2010). Sebelum mengurai lebih jauh, latar belakang dari permasalahan yang saya temukan dalam pembelajaran IPA selama ini yaitu bahwa pelajaran IPA sering dianggap sulit untuk dipelajari dikarenakan banyak materi yang membutuhkan penalaran, pemahaman, dan membutuhkan hafalan serta banyak materi IPA yang menggunakan hitungan rumus. Hambatan-hambatan ini akan berpengaruh dalam ketercapaian tujuan belajar siswa umumnya dan tujuan instruksional siswa khususnya.

Hambatan ini tentunya tidak hanya sebatas dari apa yang di atas disebutkan, tetapi ada faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal bisa dari fisiologis dan psikologis, contohnya adalah minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif. Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan sosial, kurikulum, program, sarana dan prasarana dan juga guru. Faktor internal peserta didik terutama dalam teknologi sudah mumpuni, karena mereka termasuk kedalam golongan generasi millenial yaitu generasi gen Z. Namun dalam kenyataannya kemampuan teknologi peserta didik hanya sebatas media sosial dan bermain games. Tentunya saya berfikir disini kemampuan siswa harus ditingkatkan dalam memahami pelajaran/ materi IPA melalui pembelajaran berbasis multimedia (website) agar literasi siswa menjadi meningkat dan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam materi pelajaran. Menurut saya faktor internal dapat direduksi dengan memperkuat faktor eksternal, contohnya adalah sarana dan prasarana yang harus memadai diantaranya adalah ketersediaan laboratorium IPA yang memadai, selain itu kompetensi profesionalisme guru dalam teknologi juga menjadi salah satu yang diperhitungkan dikala sarana teknologi sudah ada dan layak. Oleh karena itu kemampuan ilmu Teknologi menjadi syarat penting yang harus dikuasi oleh guru di zaman sekarang, sehingga dapat membantu pembelajaran menjadi efektif dan efisien.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya guru dalam memudahkan siswa untuk dapat menyampaikan, menerima dan memahami materi/ pesan pembelajaran khususnya dalam penyampaian materi pembelajaran IPA.

Ada beberapa elemen-elemen atau komponen-komponen yang terdapat dalam materi/ pesan pelajaran IPA yaitu silabus, analisis kompetensi dasar/ capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, materi pelajaran, pelaksanaan pembelajaran (merencanakan, melekasanakan, mendampingi, dan mengevaluasi pembelajaran) dan sikap siswa terhadap pembelajaran IPA.

Adapun rancangan atau langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam penyampaian materi/ pesan pelajaran berbasis multimedia (website) pada mata pelajaran IPA saya gunakan model ADDIE (analyze, Design, Development, Implementation dan Evaluation):

A. Analyze

Ada beberapa hal yang saya lakukan dalam menganalisis terkait hambatan-hambatan yang dimiliki oleh peserta didik dalam menerima materi/ pelajaran IPA, sehingga dapat ditemukan solusi tepat untuk menyelesaikannya. Masalah-masalah atau hambatan-hambatan telah ditemukan seperti yang di atas telah saya sebutkan, salah satunya adalah kemampuan literasi sangat minim walau penguasaan teknologi seperti gadgate sudah dikuasai. Maka dari itu saya mencoba untuk memberikan solusi pembelajaran berbasis multimedia (website).

B. Design

Dalam mendesain pembelajaran ini saya memulai dengan menentukan kompetensi khusus, metode, bahan ajar,  dan proses pembelajaran. Pertama, kompetensi mana yang akan diberikan kepada peserta didik sehingga tujuan instruksional dapat dengan cepat dipahami. Kedua, menentukan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran, apakah syncronus, asyncronus atau campuran antara keduanya. Ketiga, bahan ajar yang kompleks harus dipermudah dan dapat dicerna oleh peserta didik. Dan keempat, menggunakan alur pembelajaran yang runtut misalnya saya disini menggunakan alur “P-E-N-D-E-K-A-R” yaitu Mulai dari Pribadi, Eksplorasi, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi, Koneksi antar materi dan Aksi Nyata serta diakhiri dengan Refleksi.

C. Development

Tahapan ini dimana seorang guru memproduksi dan mengetes program yang akan digunakan dan dilaksanakan.

D. Implementation

Mulai dari pribadi, peserta didik mulai dengan mengisi absensi dilanjutkan dengan mengisi apersepsi berupa pertanyaan pemantik.  Dilanjutkan dengan Guru memastikan setiap peserta didik apakah telah cukup berkonsentrasi pada pelajaran sebelum dimulai, karena perhatian merupakan kunci bagi masuknya setiap informasi ke dalam pikiran seseorang.

Setelah itu, dilanjutkan pada ekplorasi konsep, peserta didik dituntut literasi dan memberi tanggapan pada materi yang dibaca. Tidak hanya materi bersifat teks tapi gambar dan video disampaikan dalam bagian eksplorasi. Kemudian pada waktu yang telah ditentukan pada tahap eksplorasi, peserta didik berlanjut pada tahap Ruang kolaborasi dan disini setiap siswa saling berbalas komentar atas pertanyaan yang dilontarkan oleh guru pada chat yang telah disediakan sampai dimana guru dapat menyampaikan penjelasan pada chat. Selanjutnya peserta didik melaksanakan demonstrasi atas Lembar Kerja Peserta Didik yang telah disediakan berupa analisis materi, praktikum ataupun demonstrasi. Untuk penyampaiannya bisa berupa narative, bagan/ gambar, atau video untuk diupload dalam brankas file yang telah disediakan. Tahap ini akan variatif tergantung dari gaya belajar yang dimiliki oleh peserta didik. Setelah melakukan demonstrasi, siswa mendapatkan penguatan dari guru dengan disediakannya video confrence. Langkah selanjutnya guru mempersilahkan peserta didik untu mengaitkan konsep yang dipahami dengan konsep/ materi yang telah dipelajari sebelumnya. Sebelum melaksanakan refleksi siswa melaksanakan aksi nyata yang mana di dalamnya adalah melaksanakan evaluasi dengan menjawab quis. Terakhir siswa diminta melakukan refleksi atas pembelajaran yang berlangsung.

E. Evaluation

Tahapan terakhir dari model eddie ini adalah evaluation, dimana guru (teknolog) melakukan evaluasi program pembelajaran yang dipakai atau digunakan serta melakukan evaluasi hasil belajar yang sebelumnya telah dilakukan oleh guru dan peserta didik. Apabila terdapat hambatan dalam alur ini dapat direvisi atau diperbaharui untuk menyampaikan materi dalam pembelajaran selanjutnya. Revisi atau perbaikan yang didapat diharapkan memperoleh produk media pembelajaran yang menarik dan menciptkan pembelajaran yang efektif bagi peserta didik.

Berdasasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa model ADDIE dapat digunakan dalam merancang materi/ pelajaran IPA dengan berbasis multimedia (website) atau sering disebut dengan e-learning. ADDIE memberikan rangkaian sederhana untuk merancang pembelajaran dimana prosesnya dapat diterapkan dalam berbagai pengaturan karena strukturnya yang sederhana dan umum, sehingga materi pelajaran dapat disampaikan dengan mudah dan baik sehingga pembelajaran yang berlangsung memberikan pengalaman yang baik dan bermakna bagi peserta didik.

ADDIE
Model Addie